Jumat, 30 Mei 2014
Kamis, 29 Mei 2014
entahlah
bagi ku....
membuat pilihan itu mudah
tetapi...
menetapkan pilihan itu tak semudah membuat pilihan
setiap saat berbaring menatap langit-langit
pikiranku tak akan pernah berhenti untuk memperbanyak pilihan itu
berkali ku coba mengkerucutkan sebuah teka-teki dengan sebuah kertas
menggoreskan tinta membuat kesatuan kerangka konsep
sekali aku menjadi gila
entahlah...
harusnya aku bertanya dulu kepada meja kayu tua
sebelum aku menjadikan kursi plastik sebagai penopang badanku
entahlah...
bagaimana bisa sebuah jam tangan mengingatkanku
detik memanggilku
menit menekanku
jam pun akan membunuhku
entahlah...
membuat pilihan itu mudah
tetapi...
menetapkan pilihan itu tak semudah membuat pilihan
setiap saat berbaring menatap langit-langit
pikiranku tak akan pernah berhenti untuk memperbanyak pilihan itu
berkali ku coba mengkerucutkan sebuah teka-teki dengan sebuah kertas
menggoreskan tinta membuat kesatuan kerangka konsep
sekali aku menjadi gila
entahlah...
harusnya aku bertanya dulu kepada meja kayu tua
sebelum aku menjadikan kursi plastik sebagai penopang badanku
entahlah...
bagaimana bisa sebuah jam tangan mengingatkanku
detik memanggilku
menit menekanku
jam pun akan membunuhku
entahlah...
Rabu, 28 Mei 2014
hanya saja mata itu
part 1
berualang kali
setiap kali
aku menatap sendiri
............................
sejak hari ke 7 pertemuanku dengan seorang di kereta lokal jogja-solo itu entah sebuah drama ataukah sebuah jejak untuk ku rangkai menjadi sebuah cerita yang hanya dimulai dari sebuah sepatu converse absurd.
"sepatu kesayangan?" seorang ibu bertanya kepadaku
"hm, iya bu" jawabku tak berdaya sembari melihat sepatu rapuhku
"anak saya punya sepatu sepertimu"
"hehehe, tapi tidak buluk seperti saya kan bu?"
"sama, hanya saja letak jahitannya disebelah kiri"
ibu itu hanya menerawang menikmati pemandangan.
aku tak tau harus berkata apa karena percakapan ini tidak pernah terbayangkan oleh ku.
5 menit berikutnya ibu itu menggenggam tanganku.
aku sangat kaget dan aku berusaha tenang.
"ada apa bu? tangan ibu dingin tapi hangat?"
"sebentar saja"
aku tak tau maksud ibu itu dengan sebuah kalimat "sebentar saja".
"ibu itu menatapku, kamu akan pergi kemana nak?"
"saya hanya jalan-jalan bu"
"kamu sendirian?"
"iya bu, ibu sendiri"
"saya akan pulang"
kami berbincang ramah dan hangat. sampai kami ketiduran.
kereta berhenti di stasiun dan ibu itu turun sambil memberiku sebuah kotak kaleng kecil untuk aku simpan sebagai ucapan terimakasih. aku juga memberikan ibu itu sebuah gambar siluet ibu itu ketika beliau tadi sempat tidur, dan aku sempat menggambarnya, karena aku tak membawa apa-apa.
"sepatu kesayangan?" seorang ibu bertanya kepadaku
"hm, iya bu" jawabku tak berdaya sembari melihat sepatu rapuhku
"anak saya punya sepatu sepertimu"
"hehehe, tapi tidak buluk seperti saya kan bu?"
"sama, hanya saja letak jahitannya disebelah kiri"
ibu itu hanya menerawang menikmati pemandangan.
aku tak tau harus berkata apa karena percakapan ini tidak pernah terbayangkan oleh ku.
5 menit berikutnya ibu itu menggenggam tanganku.
aku sangat kaget dan aku berusaha tenang.
"ada apa bu? tangan ibu dingin tapi hangat?"
"sebentar saja"
aku tak tau maksud ibu itu dengan sebuah kalimat "sebentar saja".
"ibu itu menatapku, kamu akan pergi kemana nak?"
"saya hanya jalan-jalan bu"
"kamu sendirian?"
"iya bu, ibu sendiri"
"saya akan pulang"
kami berbincang ramah dan hangat. sampai kami ketiduran.
kereta berhenti di stasiun dan ibu itu turun sambil memberiku sebuah kotak kaleng kecil untuk aku simpan sebagai ucapan terimakasih. aku juga memberikan ibu itu sebuah gambar siluet ibu itu ketika beliau tadi sempat tidur, dan aku sempat menggambarnya, karena aku tak membawa apa-apa.
**
Langganan:
Komentar (Atom)